Pakudhatu Bersama Pemerintah Desa Tenggur Meriahkan Hari Wayang Sedunia dan Hari Santri 2025

Seni Budaya208 Views

foto : lung tinampi wayang gunungan sebagai tanda 

 

 

finews, Tulungagung — Pakumpulan Dhalang Anom Tulungagung (Pakudhatu ) dan Paguyuban Sindhen Tulungagung (Pasinta) bekerjasama dengan pemerintahan desa Tenggur kecamatan Rejotangan – Tulungagung menggelar hiburan rakyat ,pagelaran Wayang kolosal spektakuler dalam rangka hari wayang nasional, Hari Sumpah Pemuda, Hari Santri 2025 Hari Pahlawan dan menyongsong hari jadi kabupaten Tulungagung ke 820, pada Jumat (7/10) semalam suntuk.

Bertempat di lapangan desa Tenggur kecamatan Rejotangan, acara tersebut dihadiri oleh Kepala Desa Tenggur beserta seluruh perangkat desanya, anggota DPRD provinsi Jawa Timur Guntur Wahono, anggota DPRD kabupaten Tulungagung Koirurokhim, plt kepala dinas Kebudayaan dan Pariwisata Tulungagung Bagus Kuncoro, Forkopimcam kecamatan Rejotangan, dalam hal ini Camat, Kapolsek dan Danramil dengan didampingi Sekretaris kecamatan, ketua AKD Rejotangan beserta beberapa kepala desa, penasehat Pakudhatu Ki Minto Darsono, serta tamu undangan lainnya.

yoga selaku ketua panitia dalam laporan kepanitiaan

Dalam laporan kepanitiaan, Yoga menyampaikan rasa terima kasih kepada seluruh pihak yang telah terlibat dalam kegiatan tahunan tersebut.

“Perlu diketahui, dalam pagelaran ini kami menampilkan 20 orang dalang dan 10 orang sindhen. Selain itu untuk diketahui juga, bahwa kegiatan ini merupakan kegiatan tahunan yang sudah memasuki tahun ketiga untuk Pakudhatu, dan di kecamatan Rejotangan ini adalah kali kedua, karena yang pertama di desa Karangsari,” ungkapnya.

Selain itu pemuda tambun asal desa Jeli Karangrejo ini mengatakan, pagelaran ini adalah merupakan kegiatan yang sangat relevan dan semangat juang berkarya melalui kesenian.

“Kegiatan ini merupakan kegiatan yang relevan, jiwa muda berkarya, sebagai implementasi semangat patriotisme terhadap keberhasilan dalam mencintai tanah air melalui seni tradisi. Tema ini tidak sekedar rangkaian kata, namun sebagai panggilan jiwa, bahwa wayang sebagai warisan adiluhung yang telah diakui oleh UNESCO adalah cerminan nilai-nilai luhur bangsa, ditangan pemuda, layaknya Pakudhatu dan Pasinta, wayang tidak hanya sebagai pertunjukan, namun menjadi wujud karya nyata akan kesenian Indonesia,” lanjut dia.

Tak hanya itu, menurut Yoga, melalui seni tradisi ini, pemuda Indonesia juga telah membela negara walau tanpa memikul senjata.

“Melalui seni tradisi ini bisa mengembangkan negara Indonesia. Melalui wayang juga bisa mengembangkan Indonesia di era modern ini, melalui wayang mari kita tumbuhkan rasa bangga kita terhadap bangsa dan negara kita. Harapan kami kesenian tradisional seperti wayang dan lainnya tidak akan pernah punah, dengan berkesenian akan bisa mempersatukan bangsa ini, sedang pesan kami terhadap generasi muda, teruslah cintai dan kembangkan kesenian asli negara sendiri, jangan sampai kelak kita belajar kesenian kita sendiri sampai ke negeri orang, semoga kegiatan ini lancar dan menginspirasi bagi kita semua, ” pungkasnya.

turut memberikan sambutan, kepala desa Tenggur Jaenal fanani

Sementara itu kepala desa Tenggur, Zaenal Fanani selaku tuan rumah mengatakan sejarah bagaimana pagelaran wayang kulit kolosal spektakuler dalam rangka peringatan hari wayang ini sampai dilaksanakan di desa Tenggur.

“Jadi awalnya kegiatan hari wayang ini pertama kali di kecamatan Rejotangan ini bertempat di desa Karangsari, dan untuk tahun berikutnya saya minta fan saya fasilitasi di desa Tenggur ini. Akan tetapi pagelaran ini bukan hanya untuk peringatan hari wayang saja, namun ada Hari Santri 2025, hari Sumpah Pemuda, menjelang hari Pahlawan dan menyongsong hari Ulang Tahun kabupaten Tulungagung, ” kata Jaenal Fanani yang sebelumnya juga telah membacakan doa demi lancar dan suksesnya kegiatan tersebut.

Lebih lanjut kepala desa Tenggur ini juga memberikan support pada Pakudhatu dan Pasinta.

“Jika pemuda sudah bersemangat seperti ini, kasihan kalau tidak didukung. Dan saya memang sudah menjanjikan dana 20 juta rupiah untuk kegiatan ini, menurut saya jadi lurah itu menjadi ujung tombak dan ujung tombok, ” ungkapnya dengan mimik wajah penuh senyuman.

Tak hanya itu, dirinya mengajak semua yang hadir termasuk anggota dewan dan kepala OPD serta seluruh masyarakat untuk bersama membangun Tulungagung dan Jawa Timur melalui bidang kesenian. Pihaknya berpesan pada anggota DPRD Provinsi untuk menitipkan seniman muda ini berkaitan dengan operasional pembinaan lebih lanjut.

” Mohon maaf kepada bapak Guntur Wahono, tolong ini adik adik Pakudhatu dan Pasinta ini untuk difasilitasi dalam segi materiil sebagai penunjang pembinaan, karena apa kita harus tetap memberikan hal terbaik pada generasi muda, terutama bagi mereka yang ikut didalam melestarikan aset budaya nasional seperti wayang ini, kepada adik-adik teruslah berkarya, berkreasi, majukan dan rawat terus kebudayaan dan seni tradisional asli Indonesia ini, semoga nantinya semua bisa sukses. Pernah saya katakan pada adik-adik bahwa di Tulungagung itu dari timur sampai ke barat bisa dicari bahan untuk kreasi cerita, jadi mungkin bisa mengembangkan cerita dengan bumbu-bumbu lokal wilayah sendiri, Selain itu jika budaya berkembang, UMKM juga akan bisa meningkat, alasannya, dengan banyak pertunjukan, banyak penonton, maka UMKM juga akan merasakan efek positif dari pertunjukan, jadi tidak hanya mengangkat kesenian tetap juga dirasakan oleh pihak yang lain seperti pelaku UMKM, ” pungkasnya.

kepala desa Tenggur mendampingi anggota DPRD Jatim Guntur wahono

Sementara itu, dalam kesempatan yang sama, anggota DPRD provinsi Jawa Timur, Guntur Wahono menyambut apa yang di ungkapkan oleh kepala desa Tenggur, Jaenal Fanani.

“Berkaitan dengan dana pembinaan, kami akan usahakan adik-adik Pakudhatu dan Pasinta ini akan kami fasilitasi dana sebesar 200 juta, tolong ini segera ditindaklanjuti pada adik-adik berkaitan kelengkapannya, segera dimasukkan di tahun 2026 dan In Sya Allah bisa direalisasikan di tahun 2027, untuk Pakudhatu dan Pasinta semoga lebih ngremboko dan hanjayeng bawono, jayalah terus seniman Indonesia jayalah terus kesenian Indonesia, ” tegasnya.

kesibukan penyajian wayang Sandosa penghias dan pemanis pagelaran wayang kulit

Kemudian acara dilanjutkan dengan penyerahan gunungan sebagai tanda dimulainya pagelaran wayang, tak hanya wayang kulit biasa, namun juga terhias oleh wayang Sandosa lebih menghidupkan suasana pertunjukan, yang mana wayang Sandosa adalah pertunjukan wayang kulit eksperimental yang memadukan unsur tradisional dan modern dengan efek lampu sebagai penerang sehingga muncul bayangan yang seolah nyata, sering kali wayang Sandosa melibatkan lebih dari satu dalang. (lukman)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *