Sejak Kapan Orang Indonesia Ketergantungan Beras

Opini/Artikel1363 Views

foto: ilustrasi 

 

finews,- Nasi dari beras adalah makanan pokok orang Indonesia. Sekalipun beberapa daerah Indonesia tidak bisa ditumbuhi padi, beras tetap jadi makanan pokok penduduk daerah tersebut.

“Keseragaman kita dalam mengkonsumsi nasi atau beras dikaitkan dalam kebijakan politik Orde Baru pada program swasembada beras. Namun, kalau ditarik pada periode lebih jauh, bukan sejak Orde Baru,” kata Sejarawan Makanan Fadly Rahman. Hal ini disampaikan Fadly dalam Dialog Sejarah Historia: Keberagaman Pangan di Nusantara Menggali Akar Silam Citarasa Indonesia, tayang di Youtube Historia, Jumat (26/3/2021) lalu.

Fadly menjelaskan kebijakan politik Orde Baru banyak mengadopsi pola kekuasaan kerajaan Mataram, salah satunya yang berorientasi pada beras. Pada masa kerajaan Mataram, kewibawaan seorang penguasa atau raja ditentukan dalam keberhasilan memakmurkan pangan rakyat yaitu beras. “Pada zaman kekuasaan VOC sampai Hindia Belanda, produksi dan ekspansi beras juga sangat tampak,” papar Fadly.

Botanis Jerman yang bekerja pada VOC, Rumphius, mencatat posisi beras sebagai komoditas yang sangat dominan dalam niaga antar pulau nusantara.

Bahkan pada masa itu, Fadly menjelaskan, orang Maluku menilai beras nilainya sangat prestisus dibandingkan makanan pokok yang sudah ada yakni sagu dan umbi-umbian. VOC yang terobsesi pada rempah-rempah, banyak meminggirkan pangan sebagai komoditas ekonomi yang sebenarnya bisa didorong.

Pada akhirnya banyak lahan pangan terbengkalai karena banyak penduduk pribumi yang dipaksa menanam komoditas yang dirasa menguntungkan.

“Diversifikasi pangan yang melimpah terpinggirkan malah semakin tinggi konsumsi beras meminggirkan konsumsi pangan lain,” pungkasnya.

Fadly mengatakan pada masa itu peneliti pangan dari Belanda sampai heran melihat kebiasaan orang Jawa yang memperlakukan ketela sebagai tanaman pekarangan atau hanya sampingan dari lahan padi.

Padahal gizi ketela tak kalah dari padi. Pada masa lalu, ia mengatakan sudah banyak peneliti pangan yang mengkritik kebijakan politik dagang pemerintah yang menyingkirkan komoditas pangan selain beras. Pakar gizi saat itu berusaha membingkai selera dan cara berpikir masyarakat pribumi di Hindia Belanda supaya tidak berorientasi pada satu jenis makanan pokok atau karbohidrat

“Ini juga alasan program Empat Sehat Lima Sempurna pada 1950-an, yang mengadopsi dari ahli gizi di zaman kolonial,” kata Fadly

“Ada hal yang tidak terjadi dari dulu sampai sekarang, ketidakmampuan dalam sinergi pangan dari hulu ke hilir,” jelasnya.(*)

 

#kompas.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *