Wayang Kulit, Kearifan Jawa Diakui UNESCO

foto: shutterstok

 

finews,- Wayang kulit mencerminkan filsafat dan spiritualitas Jawa yang telah diakui sebagai warisan dunia.

Wayang kulit adalah kesenian tradisional yang lahir, tumbuh, dan berkembang terutama di tengah masyarakat Jawa Tengah dan Jawa Timur. Pertunjukan ini dahulu menjadi medium spiritual yaitu sarana permenungan yang menghubungkan manusia dengan roh para dewa.

Kata “wayang” diyakini berasal dari istilah “ma Hyang”, yang berarti perjalanan menuju spiritualitas Sang Kuasa. Namun, ada pula pendapat lain yang menyebut bahwa “wayang” mengacu pada teknik pertunjukannya yang mengandalkan bayangan (wayang) di balik layar.

Wayang kulit yang terbuat dari kulit kerbau ini dipercaya sebagai cikal bakal dari berbagai jenis wayang yang dikenal saat ini. Pertunjukannya dimainkan oleh seorang dalang, diiringi alunan gamelan yang dimainkan para nayaga (pemusik), serta tembang dari para pesinden.

Dari alur cerita, pewayangan menanamkan nilai-nilai luhur yang disisipi kritik sosial dan adegan jenaka dalam segmen goro-goro, yang membuatnya terasa hidup dan tetap relevan lintas generasi.

Catatan tertua mengenai wayang kulit purwa, ditemukan dalam Prasasti Kuti yang bertarikh 840 M, berasal dari Joho, Sidoarjo, Jawa Timur. Pada prasasti tersebut tercantum istilah haringgit atau dalang. “Haringgit merupakan bentuk halus dari kata ringgit, yang hingga kini masih digunakan dalam bahasa Jawa untuk menyebut wayang,” tulis Timbul Haryono, Guru Besar Arkeologi Universitas Gadjah Mada, dalam artikel “Masyarakat Jawa Kuna dan Lingkungannya Pada Masa Borobudur” termuat dalam buku 100 Tahun Pasca Pemugaran Candi Borobudur.

Pada masa itu, pertunjukan wayang dipimpin dan dimainkan oleh seorang dalang di lingkungan istana. Arkeolog Dyah W. Dewi dalam tulisannya “Kesenian Wayang Pada Masa Jawa Kuno dan Persebarannya di Asia” menyebut bahwa wayang memiliki makna khusus dalam konteks ritual. “Pertunjukan wayang diselenggarakan sebagai bagian dari upacara untuk memperingati suatu peristiwa penting,” catat Dyah dalam Pertemuan Arkeologi V.

Bentuk Awal

Sejumlah ahli pewayangan, seperti R.M. Mangkudimedja, meyakini bahwa bentuk awal wayang berbeda dari yang kita kenal sekarang. Dahulu, wayang hanya menampilkan bagian depannya saja. Bahan pembuatannya pun berbeda; bukan dari kulit hewan seperti saat ini, melainkan dari daun lontar.

Namun, ahli arkeologi Soedarso Sp., meyakini bahwa wayang sejak awal memang sudah dibuat dari kulit. Keyakinan ini ia dasarkan pada isi Kakawin Arjunawiwaha karya Mpu Kanwa yang ditulis pada tahun 1036 Masehi.

Tetapi, Pelestari Wayang, Ki Purbo Asmoro mengatakan bahwa sejarah wayang kulit akan berbeda sedikit tergantung sumber yang digunakan. Buku-buku barat mengatakan bahwa keberadaan wayang kulit terdokumentasi pertama kali pada abad ke-11.

Sedangkan buku Jawa lebih detail mengungkapkan linimasanya. Ia mengatakan wayang kulit muncul pertama kali pada zaman kerajaan Kediri.

Menariknya, prototipe pertamanya dibuat dari kertas lalu menggunakan kulit binatang pada zaman kerajaan Demak.

Dari Prasasti Kuno

Terkait lakon dalam pertunjukan wayang kulit pada periode awal, satu-satunya sumber yang menjelaskannya secara cukup jelas adalah Prasasti Wukajani dari masa pemerintahan Raja Mataram Dyah Balitung (907 M).

Dalam prasasti tersebut disebutkan istilah mawayang bwat hyang, yakni pertunjukan wayang yang dibawakan dengan lakon Bima Kumara. Kisah ini merupakan sempalan dari wiracarita Mahabharata yang mengisahkan kegilaan Kicaka terhadap Drupadi.

Keterangan mengenai wayang kulit juga ditemukan pada relief sejumlah candi di Jawa Timur yang berasal dari abad ke-10, seperti candi Surawana, candi Jago, candi Tigawangi, dan candi Panataran.

Para pendakwah Islam di Jawa membawa wayang kulit ke tengah masyarakat akar rumput sebagai sarana dakwah.

Untuk menyesuaikan dengan nilai-nilai Islam, mereka melakukan sejumlah modifikasi terhadap bentuk-bentuk wayang dan jalan ceritanya. Beberapa diantara pendakwah adalah Sunan Kalijaga.

Para pendakwah mulai memasukkan istilah-istilah baru serta menambahkan tokoh-tokoh khas yang mengandung nilai lokal dan pesan moral. Salah satunya adalah kehadiran empat tokoh jenaka yang kini dikenal sebagai panakawan yaitu Semar, Petruk, Gareng, dan Bagong.

Diakui Dunia

Kedatangan orang-orang Eropa ke nusantara turut memberi warna baru dalam perkembangan kesenian ini. Para misionaris Katolik dari Serikat Jesuit pada masa kolonial mengikuti jejak para pendakwah Islam dengan memanfaatkan wayang kulit sebagai media penyebaran ajaran agama.

Misionaris Katolik, Bruder Timotheus L. Wignyosubroto, FIC pada tahun 1960 dalam misinya menyebarkan agama Katolik, ia mengembangkan Wayang Wahyu, yang sumber ceritanya berasal dari Alkitab.

Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk Urusan Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan (UNESCO) pada 7 Nopember 2003 menetapkan wayang kulit sebagai warisan budaya dunia milik Indonesia, sebuah Warisan Maha-karya Dunia yang Tak Ternilai dalam Seni Bertutur (Masterpiece of Oral and Intangible Heritage of Humanity). (winarto, pimpinan media masa-aktif di forum pamong kebudayaan jawa timur)

*sumber:indonesiakaya,wikipedia,gunungkidulkab

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *