foto: kepala BNPB bersama bupati bener meriah tinjau pengungsi/finews/siwahrimba
finews,Bener Meriah – Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Republik Indonesia, Letjen TNI Suharyanto meninjau langsung lokasi pengungsian korban terdampak gempa bumi Burni Telong di Universitas Syiah Kuala (Unsyiah) , Lampahan, kecamatan Timang Gajah, Bener Meriah, Rabu, (31/12).
Dalam kunjungan tersebut, Letjen TNI Suharyanto didampingi bupati Bener Meriah, Tagore Abubakar, Selain menyerap aspirasi dan mendengar keluh kesah masyarakat, pihaknya juga menyalurkan sejumlah bantuan kebutuhan para pengungsi untuk menopang hidup selama berada di tenda pengungsian.
Letjen TNI Suharyanto mengatakan terjadi 16 kali gempa mulai tadi malam hingga pagi tadi. Hal itu berdasarkan data informasi dari Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) dan Pusat Vulkanologi Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG).
“Alhamdulillah dari pagi sampai sekarang gempanya sudah menurun reda. Informasi ini juga sudah kita sampaikan kepada masyarakat pengungsi jika status gunung Burni Telong di level III Siaga,” ujarnya.
Letjen TNI Suharyanto menyebut kondisi tersebut tidak akan bertahan selamanya. Ia berharap mudah-mudahan ke depan status gunung Burni Telong tidak sampai di level empat namun menurun ke level II.
“Jika sudah turun ke level 2, masyarakat pengungsi ini bisa kembali ke rumah. Kita memang tidak tahu kapan, mudah-mudahan turun seratus persen,” tuturnya.
Letjen TNI Suharyanto berpesan supaya seluruh elemen memberikan informasi sebenar-benarnya kepada masyarakat. Mengingat saat ini masih dalam suasan a terkena bencana banjir besar serta longsor.
“Dan tiba-tiba informasi status Burni Telong juga meningkat. Semoga segera turun seratus persen,” imbuhnya.
Sementara itu bupati Bener Meriah, Tagore Abu Bakar mengatakan sebanyak 2.500 warga di daerah setempat terpaksa mengungsi akibat aktivitas Burni Telong meningkat menjadi level 3 siaga.
“Para pengungsi tersebar di beberapa lokasi seperti Rongka, Simpang Balik serta Lampahan, kecamatan Timang Gajah sejak Selasa,( 30/12) sekitar pukul 24.00,” ujarnya.
Dikatakan Tagore, masyarakat yang terpaksa dievakuasi ke lokasi tersebut seharusnya hanya berasal dari dua desa yakni Pantan Pediangen dan Rembune. Lantaran penduduk di desa lain seperti Bandar Lampahan dan Damaran ikut merasa panik, mereka juga memutuskan mengungsi ke lokasi tersebut.
“Alhamdulillah hari ini kepala BNPB Letjen TNI Suharyanto turun langsung menyerahkan bantuan kepada korban terdampak gempa Burni Telong. Pemerintah hadir begitu cepat, Insya Allah bencana ini segera berakhir, terima kasih kita sampaikan kepada pusat yang sudah hadir di tengah-tengah korban bencana,” ujarnya.
Salah seorang warga asal desa Rembune, kecamatan Timang Gajah, Bener Meriah, Juniar mengatakan saat terjadi gempa dirinya sedang beristirahat di rumah bersama keluarga. Akibat guncangan begitu dahsyat mereka berhamburan ke luar ke halaman untuk berlindung lantaran dikhawatirkan terjadinya reruntuhan bangunan.
“Kami syok dan panik sampai keluar dan tidur di halaman rumah awalnya. Biasanya memang sering gempa, namun tidak separah mala mini guncangannya,” kata Juniar.
Kemudian, sambung Juniar, sekitar pukul 23 mereka mendapatkan kabar dari aparatur desa supaya berlindung sementara waktu di tenda pengungsian. Sekitar pukul 24, seluruh penduduk di kawasan Burni Telong memutuskan mengungsi ke tiga titik pengungsian.
“Mau pulang namun kami masih takut dan khawatir jika sewaktu-waktu ada debu dan keracunan dampak dari Burni Telong itu. Kami di pengungsian membutuhkan selimut karena lokasi ini dingin, kemudian sembako, pampers serta obat-obatan,” pungkasnya. (siwahrimba)








